Pengertian Ontologi

Table of Contents

Pengertian Ontologi

Ontologi dalam bahasa Inggris “ontology”, Tokoh pertama yang membuat istilah ontologi adalah Christian Wolff (1679-1714).  Istilah itu berakar dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata, yaitu ontos berarti “yang berada atau keberadaan”, dan logos berarti ilmu pengetahuan atau ajaran atau juga pemikran (Lorens Bagus:2000). Maka ontologi dapat diartikan sebagai ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada pada ilmu. Menyoal tentang wujud hakiki objek ilmu dan keilmuan (setiap bidang ilmu dalam jurusan dan program studi) itu apa ?

Dan juga dapat diartikan bahwa ontologi adalah pemikiran mengenai yang ada dan keberadaannya. Sedangkan menurut Jujun S .Suriasumantri dalam Pengantar Ilmu dalam Perspektif  mengatakan, ontologi membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, atau dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang “ada”, Menurut Pandangan The Liang Gie Ontologi adalah bagian dari filsafat dasar yang mengungkap makna dari sebuah eksistensi yang pembahasannya meliputi persoalan-persoalan. Objek ilmu atau keilmuan itu empirik, dunia yang dapat dijangkau dengan panca indra. Jadi objek ilmu adalah pengalaman indrawi. Dengan kata lain ontology adalah ilmu yang mempelajari hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada penalaran logis. Bidang pembicaraan teori tentang ontologi (hakikat)  ini luas sekali, segala yang ada dan yang mungkin ada, yang boleh juga mencakup pengetahuan dan nilai. Nama lain untuk teori tentang hakikat ialah teori tentang keadaan (Langeveld).

Apa itu hakikat ? hakikat ialah realitas; realitas adalah ke-real-an; real artinya kenyataan yang sebenarnya. Jadi, hakikat adalah kenyataan yang sebenarnya, keadaan sebenarnya sesuatu, bukan keadaan sementara atau menipu, bukan keadaan yang berubah.[1] Dari teori hakikat (ontologi) ini kemudian munculah beberapa aliran dalam filsafat, antara lain: Filsafat Materialisme, Filsafat Idealisme, Filsafat Monoisme, Filsafat Dualisme, Filsafat Skeptisisme, dan Filsafat Agnostisisme.

Argumen ontologis ini pertama kali dilontarkan oleh Plato (428-348 SM) dengan teori ideanya. Idea yang dimaksud oleh Plato adalah definisi atau konsep universal dari setiap sesuatu. Plato mencontohkan pada seekor kuda, bahwa kuda mempunyai idea atau konsep universal yang berlaku untuk tiap-tiap kuda yang ada di alam nyata ini, baik itu kuda yang berwarna hitam, putih ataupun belang, baik yang hidup ataupun yang sudah mati. Idea itu adalah paham, gambaran atau konsep universal yang berlaku untuk seluruh kuda yabg berada di Benua manapun di Dunia ini. [3] Demikan pula manusia juga punya idea. Idea manusia menurut Plato adalah “badan hidup” yang kita kenal dan dapat berfikir, dengan kata lain, idea manusia adalah “binatang yang berfikir”. Konsep binatang ini bersifat universal, berlaku untuk semua manusia baik itu besar atau kecil, tua atau muda, lelaki-perempuan, manusia Eropa, India, Asia, China, dan sebagainya. Tiap-tiap sesuatu di alam ini mempunyai idea. Idea inilah yang merupakan hakikat sesuatu dan menjadi dasar wujud sesuatu itu. Idea-idea itu berada di balik yang nyata dan idea itulah yang abadi.

Sumber :

https://rajasatour.id/apple-rilis-ios-11-1-hadirkan-beta-tes-ios-11-2/