Kedudukan Hadis mutawatir

Kedudukan Hadis mutawatir

Keadilan dan kedhabitan (kuat ingatan) dari para perawi hadis mutawatir itu sudah tidak diragukan lagi, sehingga mereka tidak mungkin untuk berbohong dalam membawa berita dari Nabi SAW. Karena itu para ulama sepakat bahwa hadis mutawatir memberi dampak pada faedah ilmu dharury, yakni keharusan untuk menerima bulat-bulat berita dalam hadis tersebut secara pasti (qath’y wurud). Dengan demikian hadis mutawatir menduduki tingkatan teratas dibandingkan dengan hadis-hadis yang lainnya.

  1. Pembagian Hadis mutawatir

Ulama ushul membagi hadis mutawatir menjadi dua bagian, yaitu mutawatir lafdy dan mutawatir ma’nawy. Adapun yang dimaksud dengan hadis mutawatir lafdy (الحديث المتواتر اللفظي) adalah hadis yang diriwayatkan secara redaksional adalah mutawatir berdasarkan sanadnya. Sejak generasi awal sanad hingga akhir matan hadis yang diriwayatkan adalah sama, konsisten secara redaksional.

Sedang Mutawatir Maknawy, ialah hadis yang rawinya banyak, tetapi redaksi pemberitaannya berbeda-beda, hanya prinsip dan maknanya saja yang ada kesamaan.

Contoh hadis mutawatir lafdhy, antara lain :

Menurut Abu Bakar Al-Bazzar, hadis tersebut diriwayatkan oleh 40 orang sahabat, dan sebagian ulama mengatakan bahwa hadis tersebut diriwayatkan oleh 62 orang sahabat dengan susunan redaksi dan makna yang sama.

Hadis Ahad

  1. Pengertian dan Kedudukan Hadis Ahad

Kata ahad (احاد) merupakan bentuk jamak dari kata ahad (أحد) yang berarti tunggal (mufrad) yang menunjukkan makna sedikit.

Hadis ahad (حديث اﻵحاد) adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu orang, dua atau tiga orang atau bahkan oleh sejumlah orang tetapi tidak mencapai jumlah bilangan kemutawatiran (‘adad at-tawatur), selanjutnya masing-masing perawi menyampaikan hadisnya kepada seorang atau dua orang saja atau sejumlah perawi tetapi dalam setiap tahapnya jumlah perawi tersebut tidak menjadikan hadisnya terkenal sebagaimana jenis lainnya.

Hadis ahad pada dasarnya dapat diterima (maqbul) dan bisa ditolak (mardud), tergantung pada kualitas perawinya dan atau ketersambungan sanadnya (ittishal as-sanad), bukan karena jumlah sanad pada setiap generasi itu sendiri. Hadis ahad juga bisa dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan ajaran islam, namun tidak bisa dijadikan hujjah dalam hal i’tiqad, keyakinan

Sumber: https://pendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/