Aneka Warna Kebudayaan Suku Bangsa

Aneka Warna Kebudayaan Suku Bangsa

Kecuali mengenai besar kecilnya jumlah penduduk dalam kestauan masyarakat suku bangsa, seorang sarjana antropologi tentu menghadapi suatu perbedaan asas dan kompleksitas dari unsur kebudayaan yang menjadi pokok penelitian atau pokok deskripsi etnografinya. Dalam hal itu, para sarjana antropologi sebaiknya membedakan kesatuan masyarkat suku-suku bangsa di dunia berdasarkan asa kriterium mata pencarian dan sistem ekonomi kedalam enam macam: (1) masyarakat pemburu dan peramu, (2) masyarakat peternak, (3) masyarakat peladang,(4) masyarakat nelayan, (5) dan masyarakat perkotaan.

Kebudayaan suku bangsa yang hidup dari berburu dan meramu pada akhir abad ke-20 sudah hampir tidak ada di muka bumi. Mereka tinggal di daerah terisolasi di daerah pinggiran atau daerah terpencil yang karena keadaan alamnya tidak suka diganggu oleh bangsa-bangsa lain. Daerah seperti itu misalnya, daerah di pantai utara kanada yang telampau dingin atau daerah yang tidak cocok untuk bercocok tanam seperti daerah gurun. Di daerah pantai utara kanada tinggal suku bangsa eskimo yang memburu binatang kutub. Di daerah gurun kalihara  di afrika selatan tinggal orang bushmen, dan gurun Australia tinggala beberapa suku bangsa penduduk asli Australia (aborigin) sebagai pemburu binatang gurun.

Pada masa kini jumlah dari semua suku bangsa yang hidup dari berburu di seluruh dunia belum ada setengah juta orang. Dibandingkan dengan sluruh penduduk dunia yang berjumlah tiga milir orang, maka hanya tinggal kira-kira 0,01% dari seluruh penduduk dunia yang masih hidup dan berburu. Jumlah itu semakin berkurang karena suku-suku bangsa yang berburu sudah banyak yang pindah ke kota untuk menjadi buruh.

Masyarakat peternak yang hidup hingga kini masih ada di daerah-daerah padang rumput stepa atau sabana di Asia Barat Daya, Asia Tengah, Siberia, Asia Timur Laut,Afrika Timur, atau Afrika Selatan. Binatang yang dipelihara berbeda menurut daerah geografinya. Misalnya, di daerah sumber air di gurun Semenanjung Arab hidup suku bangsa badui yang memelihara unta, kambing dan kuda. Di daerah gurun stepa dan sabana di Asia Barat daya hidup suku bangsa khanzah di Iran, dan Pashtun di Afganistan yang memelihara domba sapi dan kuda.

DI daerah stepa Asia Tengah hidup suku bangsa Mongolik dan Turkik, seperti buryatyi, Kazakh, dan Uzbek yang memlihara domba, kambing, unta, dan kuda. Kehidupan suku peternak adalah sangat labil. Merka pindah dari suatu perkemahan ke perkemahan lain dengan menggembala ternak mereka terentu. Merka memeras susu ternak yang mereka buat menjadi mentega, keju, makanan-makana susu lain dapat disimpan lama.

Masyarakat peladang yang hidup terbatas di daerah hutan rimbika tropikal di daerah aliran sungai Kongo di Afrika Tengah, di Asia Tenggara termasuk Indonesia, dan didaerah pengairan sungai Amazon di Amerika Selatan. Para peladang tersebut menggunakan tekhnik bercock tanam yang sama. Mereka mulai membersihkan belukar dalam hutan, menebang pohon-pohon dan membakar daun-daun, dahan dan balok-balok pohon ditebang. Mereka menanam berbagai macam tanaman tanpa pengolahan tanah dan irigasi. Bercocok tanam di ladang merupakan suatu mata pencaharian yang dapat mejadi dasar suatu peradaban. Contoh peradaban Indian Maya dalam abad ke-15 di Meksiko Selatan, Yukatan, dan Guatemala di Amerika Tengah.

Masyarakat nelayan da di seluruh dunia, di sepanjang pantai, baik dari negara-negara yang berada di pinggir benua maupun pulau-pulau. Secara khusus daerah desa nelayan biasanya terletak di muara sungai atau sekitar teluk. Di muara sungai memudahkan nelayan untuk melabuhkan perahunya yang mereka pakai ke laut, sedangkan di teluk banyak terdapat ikan.

Suatu masyarakat nelayan tentu mengetahui teknologi pembuatan perahu, mengetahui cara-cara navigasi di laut, mempunyai organisasi sosial yang dapat menampung suatu sistem pembagian kerja antara nelayan, pemilik perahu, dan pembuat perahu. Sedangkan sistem religinya biasanya mengandung unsur-unsur keyakinan, upacar-upacara, serta ilmu gaib yang erat kaitannya dengan persepsi serta konsepsi mereka mengenai laut.

 Mayarakat petani pedesaan pada masa sekarang merupakan bagian terbesar dari objek perhatian para ahli antropologi, karena suatu proporsi terbesar dari penduduk masa kini merupakan petani yang hidup dalam komunitas desa, yang berdasarkan pertanian, khususnya bercocok tanam menetap secara tradisisonal dengan irigasi.

Masyarakat yang kompleks telah menjadi objek perhatian para ahli antropolgi, terutama sesudah perang dunia II. Pada masa itu timbul banyak negara baru bekas jajahan, dengan penduduk yang terdiri dari banyak suku bangsa, golongan, bahasa, dan agama dalam satu wadah negara nasional yang merdeka.

Konsep Daerah Kebudayaan

Suatu daerah kebudayaan atau culture area merupaka suatu penggabungan atau penggolongan (oleh ahli antropologi) dari suku-suku bangsa yang dalam masing-masingkebudayaan yang beranaeka warna mempunyai beberapa unsur dari ciri mencolok serupa. Sistem penggolongan daerah kebudayaan yang sebenarnya merupakan suatu sistem klasifikasi yang mengklaskan beraneka warna suku bangsa yang tersebar disuatu daerah atau benua besar, kedalam golongan berdasarkan atas beberpa persamaan unsusr dalam kebudayanya. Hal ini untuk memudahkan gambaran menyeluruh dalam hal penelitian analisa atau penelitian komperatif dari suku-suku bangsa di daerah atau benua yang bersangkutan.

Saran-saran pertama untuk perkembangan sistem culture area nerasal dari seorang ilmuan antropologi di Amerika, F. Boas. Walaupun para pengarang dari abad ke-19 tentang kebudayaan dab masyarakat suku bangsa indian pribumi benua Amerika telah mempergunakan istilah klasifikasi berdasarkan daerah-daerah geografi di benua Amerika yang menunjukan banyak persamaan dengan sistem klasifikasi culture area di Amerika Utara yang kita kenal sekarang.

Meskipun benih-benih untuk sistem klasifikasi culture  area itu sudah ada pada para pengarang etnografi di Amerika, tetapi murid Boas bernama C. Wissler adalah yang membuat konsep itu populer, terutama karena bukunya yang berjudul The American Indian (1920), di mana ia membicarakan berbagai macam suku bangsa indian Amerika Utara berdasarkan atas sembilan buah culture area.

Sumber: https://carbomark.org/