Komunikasi Politik Capres dan Cawapres pada iklan politik

Komunikasi Politik Capres dan Cawapres pada iklan politik

Komunikasi Politik Capres dan Cawapres pada iklan politik
Komunikasi Politik Capres dan Cawapres pada iklan politik

Era reformasi, Indonesia telah dua kali melakukan pemilihan langsung presiden dan wakil presiden, yaitu pada tahun 2004 pemerintahan Megawati dan pada tahun 2009 lalu ketika SBY menjabat sebagai presiden. Pemilihan langsung presiden yang masih segar dalam ingatan adalah tentunya pada pemilu 2009 tahun lalu. Pada saat pemilu presiden 2009 para pasangan capres dan cawapres terlihat seolah sedang berlomba-lomba untuk berkampanye.

Dari kajian komunikasi politik, tentu saja arena pemilihan langsung presiden dan wakil presiden merupakan sesuatu yang jauh lebih menarik. Pada pemilihan ini akan dipastikan terjadi pengeluaran yang demikian besar dari masing-masing pasangan calon untuk iklan-iklan politik di berbagai media, khususnya televisi. Para kandidat itu sepertinya tidak mau ketinggalan dengan peserta lainnya dalam hal kepopuleran yang akan didapat melalui iklan politik. Mulai dari pasangan SBY dan Boediono, Megawati dan Prabowo serta pasangan Wiranto dan Jusuf Kalla. Ternyata dari fenomena tersebut dapat dilihat beberapa akibat cukup nyata pada cara-cara berkampanye para calon presiden. Persoalan pertama adalah tidak tersedianya konsultan komunikasi politik yang memadai baik dari konteks kuantitas maupun kualitas bagi masing-masing kubu calon presiden dan wakil presiden. Hal ini membuat hampir tidak terdapat kandungan informasi yang berarti dalam iklan-iklan politik yang mereka pasang di berbagai media (communication without substance). Semua calon terlihat hanya bermain-main dengan simbol-simbol visual dan musik latar belakang (backsound) serta “jingle-jingle” yang memunculkan mereka sebagai orang baik atau dapat dipercaya. Hal tesebut semata-mata ingin membentuk opini publik yang baik terhadap sosok mereka. Dan celakanya cara seperti itu masih berlaku dan ampuh untuk kehidupan masayarakat di Indonesia.

Secara singkat jika melihat dari uraian diatas bagaimana para capres dan cawapres menjalankan komunikasi politiknya maka dapat dikatakan bahwa tiba-tiba saja komunikasi politik Indonesia mengalami sebuah lompatan lain ke dalam “politik citra”(semata)[5].

Iklan-iklan politik yang lahir saat ini adalah karena perkembangan politik Indonesia dewasa ini memang sepertinya menempatkan citra sebagai prioritas penting dalam mencari dukungan dan simpati publik. Hal ini juga dipicu oleh peran media yang telah sedemikian maju disbandingkan pada pemilu-pemilu sebelumnya. Pengadopsian sistem demokrasi dengan sistem multipartai di Indonesia mengaharuskan para pelaku politik bersaing ketat memperebutkan dukungan publik. Hal itu pada gilirannya membuat kegiatan komunikasi politik yang tidak hanya dibatasi pada saat kampanye saja, tetapi juga sepanjang waktu, seperti layaknya para produsen barang dan jasa memasarkan produknya.

Iklan politik ini sebenarnya sudah dikenal lebih dulu oleh Amerika dan bisa dibilang bahwa iklan politik yang kini dijadikan sebagai gaya kampanye model baru di Indonesia pasca orde baru adalah sebuah proses “Amerikanisasi”.[6] Proses Amerikanisasi ini terdiri bisa ditandai dengan dua gejala spesifik yaitu kampanye berbiaya tinggi dan adanya permainan citra.

Sumber : https://multi-part.co.id/guild-of-heroes-apk/