Surabaya Layak Jadi Ibu Kota Negara, Ini Pertimbangannya

Surabaya Layak Jadi Ibu Kota Negara, Ini Pertimbangannya

Surabaya Layak Jadi Ibu Kota Negara, Ini Pertimbangannya

Wacana pemerintah terkait pemindahan Ibu Kota Negara masih hangat dibicarakan. Banyak usulan dan pandangan terkait kota-kota yang layak jadi pengganti Jakarta, salah satunya Surabaya.

Surabaya menjadi kota dan lokasi yang patut dipertimbangkan sebagai alternatif lokasi Ibu Kota Negara yang baru pun tercetus dari dosen Ilmu Sejarah Universitas Airlangga, Adrian Perkasa, S.Hum, M.A.

”Berbicara mengenai konteks ke-Indonesia-an hari ini, tidak bisa diselesaikan hanya dengan

pemindahan pusat kekuasaan saja. Ini bukan solusi,” terang Adrian.

Menurutnya, pemerintah juga perlu mempertimbangkan daerah lain di Jawa untuk menggantikan Jakarta. Misalnya saja, Surabaya atau kota-kota lain yang berada di Jawa Timur. Sebab diakuinya, bila hingga saat ini Jawa masih menjadi primadona, baik dalam aspek pembangunan, infrastruktur, geopolitik, geostrategis maupun geokultural.

”Kita lihat saja peta-peta atau pusat kekuasaan di Jawa sejak jaman dulu. Suka nggak suka, orang bilang, Jawa itu kunci, ya memang iya,” ujar alumnus Ilmu Sejarah UNAIR itu.

Adrian menjelaskan bahwa pemindahan ibu kota telah berlangsung jauh sebelum era revolusi.

Tepatnya pada periode Jawa kuno atau Hindu-Buddha. Praktik tersebut terjadi di beberapa kerajaan. Seperti di Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Raja Airlangga serta Kerajaan Mataram Islam pada masa pemerintahan Panembahan Senapati. Biasanya, pemindahan kekuasaan dilatarbelakangi oleh adanya bencana alam dan peperangan.

”Dalam tradisi Jawa, pusat kekuasaan identik dengan letak sang raja itu bertakhta. Para penguasa pada masa itu memiliki konsepsi, bahwa di dalam keraton jangan sampai ada tiga raja,” imbuh laki-laki yang pernah berwisata edukasi ke beberapa negara itu.

Pemindahan pusat kekuasaan juga pernah diterapkan oleh pemerintah kolonial atas prakarsa dari

Jan Pieterzen Coen. Bedanya, upaya tersebut dilakukan semata-mata untuk mengeruk keuntungan. Daendels pun pernah melakukan hal yang serupa. Ia memindahkan pusat kekuasaan dari Batavia ke Weltevreden —sekarang Gambir—karena kondisinya yang kacau dan kumuh pasca kebangkrutan Veerenigde Oost Indische Compagnie (VOC).

Surabaya Bisa Jadi Pertimbangan
Seperti yang telah disinggung sebelumnya, Adrian mengatakan bahwa pemerintah perlu mengkaji ulang atau minimal mempertimbangkan daerah lain di Jawa, seperti Surabaya untuk menggantikan Jakarta. Hal itu bukanlah tanpa alasan. Mengingat, Kota Pahlawan sudah cukup mapan dari segi infrastruktur, perekonomian, maupun kondisi demografis.

 

Sumber :

https://uberant.com/users/danuaji88/