Apa Peran Supervisor dalam Supervisi Konseling

Apa Peran Supervisor dalam Supervisi Konseling

Apa Peran Supervisor dalam Supervisi Konseling

Dalam supervisi konseling,  peran supervisor mencakup:

  • Capacity-Builder
  1. Berbagi pengetahuan dan pengalaman yang berkaitan dengan pekerjaan konselor.
  2. Memberikan contoh
  3. Membangun gagasan-gagasan.
  4. Memberikan kesempatan kepada konselor untuk mempraktikan pengetahuan dan keterampilannya
  • Challenger
  1. Memberikan umpan balik yang jujur, terbuka, dan konstruktif atas kinerja  yang telah dicapai konselor.
  2. Menetapkan  standar kinerja.
  3. “Menegur” secara bijak atas perilaku dan sikap negatif konselor
  • Guide/Role Model
  1. Mendorong berfikir kritis
  2. Menginspirasi dan memberi contoh praktik profesional yang berkualitas tinggi.
  3. Meningkatkan dan melanggengkan praktik etik.
  4. Memberi contoh seluruh keterampilan konseling yang ditargetkan.
  5. Memberikan rujukan berbagai opsi belajar.
  • Supporter
  1. Mendengarkan dengan penuh empatik
  2. Menjaga konfidensial (jika dianggap perlu)
  3. Memotivasi dan memberdayakan konselor
  4. Meningkatkan kesadaran diri
  • Mediator/ Facilitator
  1. Memediasi konflik antara konselor dengan manajemen (dalam beberapa kasus tertentu)
  2. Memfasiltasi pemecahan masalah pekerjaan.
  • Learner
  1. Meminta umpan balik atas kinerjanya
  2. Membuka diri untuk belajar hal-hal baru yang berkaitan dengan tugasnya
  3. Memiliki komitmen untuk meningkatkan kapasitas diri sebagai supervisor

Apa Peran Konselor (Supervisee) dalam Supervisi Konseling?

Dalam supervisi konseling,  peran konselor sebagai pihak yang disupervisi,  mencakup:

  • Active Participant
  1. Menyajikan  berbagai isu, kasus, dan dilema terkait dengan tugasnya.
  2. Terbuka untuk  memaksimalkan kesempatan belajar.
  3. Menerapkan dan mempraktikan berbagai hasil bimbingan yang didapat dari supervisi, baik selama supervisi maupun  di luar kegiatan supervisi.
  • Learner
  1. Menerima dan mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh.
  2. Menunjukkan berbagai isu terkait dengan kesadaran diri dan pengembangan profesi.
  3. Memiliki komitmen untuk terus berusaha meningkatkan kapasitas diri sebagai konselor.
  • Guide
  1. Memiliki agenda belajar mandiri
  2. Menentukan kebutuhan belajar dan kemampuan yang hendak dipertajam.
  3. Memantau proses supervisi dan memberikan umpan balik kepada supervisor.
  • Facilitator
  1. Menyiapkan  kondisi-kondisi yang memungkinkan supervisor dapat memberikan pelayanan terbaiknya.

Sumber: Adaptasi dari tulisan: Deborah Boswell. 2005. Trainer’s ManualCounseling Supervision and Training: Family Health International.