Beraksi Dan Berani Mengambil Resiko

Beraksi Dan Berani Mengambil Resiko

Beraksi Dan Berani Mengambil Resiko

Biasanya perbedaan antara orang yang sukses dan gagal bukan terletak pada usaha atau ide, tetapi terletak pada keberanian merealisasikan ide, mengambil resiko yang telah diperhitungkan, dan bertindak, – Dr. Maxwell Maltz

Belajar dari Thomas Alva Edison sang penemu bola lampu, setelah menemui kegagalan sebanyak 8889 kali akhirnya dia berhasil menciptakan bola lampu pertama yang mampu menyala selama 40 jam. Perjuangan yang sangat luar biasa. Ketika ditanya mengapa dia tidak pernah berhenti untuk berjuang kendati memperoleh kegagalan sebegitu banyaknya dia berkata. “Saya tidak akan pernah mengatakan bahwa saya mengalami kegagalan, saya akan mengatakan bahwa saya telah menemukan berbagai macam penemuan yang menyebabkan kegagalan. Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal”. Edison mampu mengambil hikmah dari berbagai kejadian yang telah dia jalani. Begitupun orang-orang besar yang mengisi lembaran sejarah, mereka semua orang yang mampu mengambil hikmah, berani menjalani resiko dan tak pernah pantang menyerah dalam beraksi.

Jika anda telah mencoba dan menemui kegagalan, jika anda telah merancang dan menyaksikan rancangan anda hancur di depan mata, ingat saja bahwa tokoh-tokoh besar dalam sejarah semuanya menjadi besar karena keberanian, dan keberanian lahir dalam buaian kesusahan.

Banyak orang sering takut mengambil peluang karena takut resikonya dan banyak juga orang yang berani mengambil resiko tapi gagal karena tidak bisa mengatasi resiko. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keberhasilan sejatinya adalah resultan dari usaha seseorang dalam menangkap peluang dan mengatasi resikonya.

Dengan demikian, orang yang ingin berhasil dalam hal apapun harus punya keberanian untuk menangkap peluang dan mengambil resikonya sekaligus. Menangkap peluang berarti menjadi orang-orang pertama (pioner) yang take action atas sesuatu hal. Sementara mengambil resiko diartikan sebagai tidak takut pada resiko serta punya bekal ilmu dan rencana untuk mengatasi resiko tersebut (risk taker). Keberaniaan itu akan kita jadikan ciri kesekian dari orang hebat.

Dalam ilmu kepemimpinan diajarkan juga bahwa mengambil resiko merupakan bagian dari ciri-ciri kepemimpinan. Orang yang takut mengambil resiko, sebetulnya pengecut yang tidak mau melihat peluang lain yang ada di depannya.Tanpa keberanian mengambil resiko, bisa kehilangan peluang terbuka di depan yang tidak diketahuinya, organisasinya tidak beranjak maju (stagnan). Menghindari resiko berarti kita kehilangan kesempatan untuk belajar, berubah, dan bertumbuh.

Resiko

Tertawa adalah mengambil resiko terlihat bodoh.
Menangis adalah mengambil resiko terlihat sentimental.
Menjangkau yang lain adalah mengambil resiko terlibat.
Mengungkapkan perasaan adalah mengambil resiko menunjukkan diri yang sesungguhnya.
Menunjukkan gagasan dan impian anda di depan orang banyak adalah mengambil resiko merasa malu.
Mencinta adalah mengambil resiko tidak dicinta.
Hidup adalah mengambil resiko mati.
Berharap adalah mengambil resiko putus asa.
Berusaha adalah mengambil resiko gagal.
Tapi resiko harus dihadapi, karena bahaya terbesar dalam hidup ini adalah tidak mengambil resiko sama sekali.
Orang yang tidak berani mengambil resiko tidak akan melakukan apa-apa, tidak punya apa-apa, dan bukan siapa-siapa.
Mereka mungkin menghindari penderitaan dan kesengsaraan, tapi mereka tidak bisa belajar, merasakan, mengubah, tumbuh, mencintai, atau hidup.
Dalam keadaan terikat oleh kepastian, mereka adalah para budak. Mereka telah mengekang kebebasan mereka sendiri.
Hanya orang yang berani mengambil resikolah orang yang bebas!

Sumber : https://downloadapk.co.id/