Umar bin Khaththab Al-Faruq r.a

Umar bin Khaththab Al-Faruq r.a

Umar bin Khaththab memiliki nama lengkap Umar bin Al-Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza Al-Quraisy. Postur tubuhnya yang tinggi besar serta keberanian dan watak kerasnya membuat orang-orang memanggilnya bersama Abu Hafs atau anak singa. Sedangkan, Rasulullah saw memberinya gelar Al-Faruq yang berarti pembeda antara yang hak dan batil.

Pada momen Perang Badar, kemenangan besar diraih oleh umat Islam. Pasukan Quraisy dibuat takluk oleh pasukan Islam, padahal kuantitas pasukan mereka lebih besar tiga kali lipat daripada pasukan Islam. Akan tetapi, berkat pertolongan Allah SWT kuantitas yang sedikit mampu mengalahkan kuantitas yang banyak tersebut.

Sebagian besar pasukan Quraisy menjadi tahanan perang kaum muslimin. Rasulullah saw bermusyawarah bersama para sahabat berkenaan penanganan yang paling baik bagi para tawanan perang.

Abu Bakar r.a berpendapat agar para tawanan perang selanjutnya dibebaskan bersama sejumlah duit tebusan. Menurutnya perihal itu dapat menaikkan citra orang muslim di hadapan kaum musyrikin Quraisy. Ujarnya, “Dengan begitu, siapa tahu mereka dapat tertarik untuk masuk Islam.”

Umar bin Khaththab memiliki pendapat lain. Ia memberi saran agar para tawanan itu dibunuh karena mereka adalah para pemimpin orang kafir yang sebenarnya tetap mengusahakan menghambat perjuangan Islam dan memerangi kaum muslimin.

Dari dua pendapat tersebut, Rasulullah saw. condong ikuti petunjuk Abu Bakar r.a, yaitu melepaskan tawanan perang bersama sejumlah tebusan. Apalagi keputusan ini didasari firman Allah SWT, “Maka bila anda bersua bersama orong-orang yang kafir (di medan perang) makapukullah batang iehermereka. Selanjutnya bila anda teiah mengalahkan mereka, tawanlah mereka, dan setelah itu anda boleh melepaskan mereka atau terima tebusan sampai perang selesai. Demikianlah, dan bila Allah meminta niscaya Dia membinasakan mereka, tapi Dia hendak menguji anda satu serupa lain. Dan orang-orang yang gugur di jalur Allah, Allah tidak menyia-nyiakan amal mereka.” (QS Muhammad [47]: 4)

Bukan berarti pendapat Umar bin Khaththab tidak memiliki landasan yang kuat. Ia berpendapat bahwa izin Allah SWT untuk melepaskan tawanan perang karena mereka tidak memerangi orang-orang muslim, mereka tidak boleh dibunuh. Akan tetapi, tidak serupa bersama para pemimpin kafir tawanan Badar kali ini. Mereka adalah musuh Allah yang benar-benar beresiko agar kudu dibunuh.

Selanjutnya, Allah SWT pun ternyata membetulkan pendapat Umar bin Khaththab bersama diturunkan ayat, “Tidaklah pantas, bagi seorang nabi membawa tawanan sebelum akan dia mampu melumpuhkan musuhnya di bumi. Kamu meminta harta benda duniawi, namun Allah meminta (pahala) akhirat (untukmu). Allah Maha perkasa, Maha bijaksana. Sekiranya tidak tersedia keputusan terdahulu berasal dari Allah, niscaya anda ditimpa siksaan yang besar karena (tebusan) yang anda ambil. Maka makanlah berasal dari sebagian rampasan perang yang telah anda peroleh itu, sebagai makanan yang halal kembali baik, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Al-Anfal [8]: 67-69)

Benarlah bahwa para tawanan Badar yang bebas pas itu menjadi musuh yang paling kuat terhadap peperangan Uhud yang membantai pasukan muslim karena hendak membalas kekalahan mereka terhadap Perang Badar.

Tentang Umar, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran terhadap lidah dan hati Umar.” (HR Turmudzi)

Pernyataan Rasulullah saw. selanjutnya didasari karena sebagian pendapat Umar bin Khaththab r.a. yang sejalan bersama tekad didalam Al-Qur’an, antara lain sebagai berikut.
Usulnya untuk membunuh para tawanan Perang Badar dan tidak terima tebusan berasal dari mereka, lalu turun ayat Al-Qur’an yang menguatkan pendapatnya.
Permintaannya agar istri-istri Nabi saw gunakan hijab (penutup), kemudiam turunlah ayat Al-Qur’an yang berkenaan bersama perihal tersebut.
Ia dulu melarang Rasulullah saw untuk menyalati jenazah orang munafik, lalu turunlah ayat Al-Our’an yang melarang Rasulullah menyalati jenazah mereka.
Pendapatnya untuk menjadikan maqam Ibrahim sebagai area shalat, kemudian turun ayat Al-Qur’an untuk menyuruh orang muslim untuk shalat di area tersebut.
Ketika istri-istri Nabi saw berkumpul karena cemburu terhadap sikap Nabi saw, ia mengatakan kepada mereka, “Jika Nabi saw menceraikan kalian, boleh menjadi Tuhannya dapat memberi ubah kepadanya istri-istri yang lebih baik daripada kalian.” Setelah itu, turunlah ayat didalam Surat At-Tahnm yang menegaskan perihal tersebut.

Sumber : tokoh.co.id/

Baca Juga :