Perbedaan Penelitian Hukum Normatif dan Non-normatif

Perbedaan Penelitian Hukum Normatif dan Non-normatif

Perbedaan Penelitian Hukum Normatif dan Non-normatif
Perbedaan Penelitian Hukum Normatif dan Non-normatif

Perbedaan Penelitian Hukum Normatif dan Non-normatif

Bertitik tolak pada uraian-uraian tersebut diatas, maka dapat dirumuskan secara umum perbedaan antara penelitian hukum normative dan penelitian hukum non-normative (empiris) :

1. perbedaan konsepsi tentang hukum

Pada penelitian hukum normative/ dogmatic hukum dikonsepsikan sebagai gejala normative yang bersifat otonom dan tidak dikaitkan dengan variable-variabel sosial lainnya, baik dalam pembentukan maupun proses bekerjanya hukum. Sedangkan dalam penelitian hukum empiris hukum dikonsepsikan sebagai sebuah gejala sosial yang dipengaruhi oleh variable-variabel sosial lainnya dan sekaligus merupakan determinant mempengaruhi perilaku individu atau kelompok masyarakat kearah prilaku yang lebih diinginkan.

2. perbedaan analisis

Penelitian hukum normative/ dogmatis lebih mengarah pada langkah-langkah spekulatif-kontemplatif dengan model analisis normative- kualitatif, sedangkan penelitian hukum empiris lebih menekankan pada langkah-langkah observasi dengan model analisis empiric-kuantitatif.

3. perbedaan data dasar ;

Penelitian hukum normative/ dogmatic umumnya lebih mengutamakan data sekunder, khususnya bahan hukum primer, sebagai data dasar penelitian, sedangkan penelitian hukum empiris/ non-normatif lebih menjadikan data-data primer sebagai data dasar penelitian. Oleh karena data primerlah yang dapat menggambarkan prilaku individu atau kelompok sebagai sasaran penelitian dalam penelitian hukum empiris.
4. perbedaan tentang keutamaan tehnik pengumpulan data
Perbedaan ini terkait dengan perbedaan tentang data dasar yang diutamakan dalam penelitian. Oleh karena penelitian hukum normative lebih mengutamakan data sekunder, maka tipe penelitian ini lebih mengutamakan tehnik pengumpulan data dalam bentuk studi literature atau studi pustaka. Namun meskipun demikian, penelitian hukum normative juga memerlukan tehnik pengumpulan data empiris, khususnya untuk menggambarkan perilaku verbal, seperti wawancara. Di sisi lain, penelitian hukum empiris lebih mengutama data rimer sebagai data dasar, maka tehnik pengumpulan data lebih mengutamakan tehnik pengumpulan data lapangan, seperti observasi, survey, angket atau kuesioner dan wawancara.
Terkait dengan perbedaan keutamaan tehnik pengumpulan data dan analisis, dapat pula dikemukakan perbedaan lainnya yakni tentang prosedur penentuan sampling. Penelitian hukum normative yang menggunakan analisis kualitatif umumnya mengutamakan tehnik penetapan sampling dalam bentuk non-probability sampling seperti purposive sampling, sedangkan penelitian hukum empiris lebih mengutamakan tehnik probability sampling.
5. perbedaan design penelitian
Perbedaan ini juga terkait erat dengan metode analisis data. Penelitian hukum normative yang menggunakan metode analisis kualitatif memiliki design penelitian yang lebih fleksibel. Design yang demikian mengijinkan perubahan design penelitian ditengah perjalanan penelitian, apabila peneliti menemukan adanya hal-hal yang spesifik dan lebih penting dari perkiraan yang disusun dalam design awal. Dalam design yang demikian juga memungkinkan bahwa pengumpulan data dan analisis dilakukan secara bersamaan sepanjang penelitian.
Penelitian hukum empiris, yang lebih mengarah pada penelitian sosial, yang umumnya banyak menggunakan metode analisis kuantitatif memiliki design penelitian yang ketat. Langkah-langkah dalam penelitian ilmiah dilakukan secara teratur dan disiplin. Ketepatan design penelitian akan sangat menentukan keberhasilan penelitian, misalnya jika dasar teori yang dipergunakan keliru, atau hipotesis keliru atau kerangka pemikiran untuk menguji hipotesis tidak tepat, maka kesimpulan penelitian juga semakin jauh dari mendekati kebenaran.