Gerakan Revolusi Mental Masih Belum Optimal di Kalangan Mahasiswa

Gerakan Revolusi Mental Masih Belum Optimal di Kalangan Mahasiswa – “Gerakan guna menggembleng insan Indonesia menjadi insan baru, yang berhati putih, berkemauan baja, energik elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala.”

Itulah di antara ungkapan yang dibacakan oleh Presiden Indonesia kesatu guna memaknai makna revolusi mental. Ungkapan itu seakan menjadi sindiran langsung terhadap masyarakat sebagai bangsa yang masih mempunyai krisis motivasi dan jiwa guna merdeka.

Saat ini, gerakan revolusi mental sedang digalakan pulang oleh pemerintah. Pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo, gerakan revolusi mental dimaknai sebagai upaya guna memperkokoh kedaulatan, menambah daya saing, dan mempercepat persatuan bangsa. Lebih lanjut, laksana yang sudah termuat dalam wawancara yang dilaksanakan oleh kesebelasan redaksi Berita Satu, Presiden Jokowi menuliskan bahwa jati diri bangsa yang semakin tergerus oleh nilai-nilai asing menjadi salah satu dalil untuk mengerjakan pembangunan bangsa yang tidak mempunyai sifat fisik saja tetapi perlu membina nilai-nilai positif dan optimis.

Gerakan revolusi mental adalah gerakan yang dilaksanakan oleh semua masyarakat, tergolong mahasiswa, sebagai agen pembentuk identitas jati diri bangsa. Di samping menjalankan tugasnya sebagai seorang mahasiswa yang masih sedang belajar, bakal lebih baik lagi bila mahasiswa ikut serta dalam membentuk jati diri masyarakat sebagai bangsa yang mandiri, optimis, dan berani berlomba dengan masyarakat luar negeri.

Mahasiswa pun perlu menyusun dirinya sebagai individu yang peka terhadap persoalan sosial masyarakat dan membina etos kerja untuk menolong masyarakat sampai-sampai menjadi pelaku sekaligus teladan untuk masyarakat guna mensukseskan gerakan revolusi mental. Hal itu menjadi suatu strategi internalisasi nilai revolusi mental melewati jalur edukasi tinggi.

Langkah nyata yang dapat dilaksanakan oleh mahasiswa ialah dengan ikut ‘terjun’ dalam pekerjaan pemberdayaan masyarakat. Berdasarkan keterangan dari (Widjaja, 2003:169) pemberdayaan masyarakat ialah upaya meningkatkan keterampilan dan potensi yang dipunyai masyarakat sampai-sampai masyarakat bisa mewujudkan jati diri, harkat dan martabatnya secara maksimal guna bertahan dan mengembangkan diri secara berdikari baik di bidang ekonomi, sosial, agama dan budaya. Melaui pekerjaan pemberdayaan, masyarakat diinginkan mempunyai kemandirian guna megembangkan potensi yang dimilikinya.

Dengan terjun ke lapangan, mahasiswa dapat menyaksikan bagaimana kondisi jasmani dan non-fisik yang ada. Dari sana mahasiswa bisa mengamati, menganalisis, dan memahami masalah apa saja yang timbul di sebuah wilayah. Di samping itu, melalui pekerjaan pemberdayaan, mahasiswa dapat merealisasikan pengetahuan dan kemampuan yang telah didapatkan di edukasi formal guna mewujudkan urusan positif di masyarakat. Melalui gagasan-gagasan yang berbasis situasi di lapangan tentunya bakal lahir ide-ide aplikatif cocok dengan konteks kehidupan masyarakat. Melalui urusan ini, usulan mahasiswa tidak melulu menjadi sebuah hal yang fiktif-teoritis dan melulu cita-cita semata.

Pada kenyataannya, kontribusi mahasiswa dalam sekian banyak kegiatan masyarakat tampaknya ingin belum optimal. Hanya tidak banyak dari mereka yang inginkan terjun ke masyarakat. Sebagai contoh, hasil riset kualitatif pengarang terhadap 15 mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma mengindikasikan bahwa 11 diantara mahasiswa itu memang mengaku dirinya pernah tercebur di pekerjaan masyarakat.

Keterlibatan mahasiswa tersebut terlukis dalam format kepengurusan organisasi karang taruna desa, ikut serta dalam kerja bakti dan gotong royong, keterlibatan dalam OMK paroki, dan ikut serta dalam remaja masjid di wilayah tempat tinggal. Namun, dari 15 mahasiswa tersebut, 10 diantaranya pun menyatakan bahwa mereka jarang mengikuti pekerjaan pemberdayaan masyarakat ketika ini.

Alasan dari kekurangikutsertaan mereka beragam, diantaranya terbatasnya pekerjaan yang mewadahi mahasiswa dalam pekerjaan pemberdayaan masyarakat, tidak adanya pekerjaan pemberdayaan masyarakat yang sifatnya berkelanjutan, kegiatan mahasiswa, kurangnya keyakinan diri untuk tercebur dalam pekerjaan pemberdayaan masyarakat, dan kurangnya kedekatan dengan masyarakat di wilayah tempat tinggal.

“Karena banyaknya tugas yang dibebankan untuk mahasiswa dan kegiatan dalam kepanitiaan jadi tidak sempat memikirkan tentang pekerjaan pemberdayaan masyarakat,” ujar Cristy salah seorang mahasiswa.

Kontribusi mahasiswa dalam pekerjaan pemberdayaan masyarakat pasti perlu didukung dengan sistem/model edukasi yang didapatkan di edukasi formal terutama perguruan tinggi.

Perguruan tinggi dituntut menyuguhkan model edukasi yang tidak melulu selalu “memberi pengajaran” untuk peserta didik namun perlu mendorong mahasiswa guna mengaplikasikan keterampilan yang sudah diperolehnya.

Salah satu model yang dapat digunakan ialah dibentuknya sejumlah kelompok mahasiswa dalam satu ruang belajar untuk merealisasikan pengetahuan yang telah didapatkan tentang pekerjaan pemberdayaan di sebuah wilayah. Mahasiswa dituntut untuk dapat menganalisis situasi masyarakat dan memberikan usulan yang dapat digunakan dalam solusi masalah.

Terdapat slogan yang dipunyai oleh Program Studi Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menganalisis situasi masyarakat yakni melalui keterampilan SUC (seeing, understanding, and communicating). Pertama, mahasiswa mesti dapat seeing atau mengamati situasi utama yang terdapat di sebuah wilayah.

Tidak melulu terbatas pada pekerjaan observasi, wawancara kepada sejumlah pihak diperlukan supaya memperoleh informasi lebih banyak.

Kedua, dibutuhkan kemampuan understanding, yaitu keterampilan memahami masalah yang ditemukan saat proses observasi dan wawancara. Kemampuan mengetahui ini lumayan penting sebab menilai seberapa tidak sedikit hasil yang didapatkan mahasiswa saat menganalisis situasi masyarakat. Ketiga, setelah didapatkan hasil pemantauan dan pemahaman bersangkutan situasi masyarakat, dibutuhkan adanya komunikasi antara sejumlah pihak tergolong antar anggota kumpulan mahasiswa tersebut. Setiap mahasiswa perlu mengucapkan pemahamannya dan bercakap-cakap untuk menyamakan pandangan dalam menyaksikan suatu masalah.

Kemampuan analisis situasi masyarakat oleh mahasiswa tentu tidak cukup lengkap bilamana tidak dibuntuti dengan sumbangan usulan aplikatif dalam solusi masalah. Proses perumusan usulan aplikatif dibutuhkan adanya diskusi dan dialog lebih lanjut antara mahasiswa dengan pengajar (dosen) ataupun antara mahasiswa dengan figur masyarakat distrik bersangkutan. Dalam urusan ini, dosen sebagai pendidik pastinya turut berperan dalam menyumbangkan pendapat dan gagasannya dalam perumusan usulan aplikatif.

Setelah proses pemantauan dan perumusan usulan menurut diskusi dan dialog, mahasiswa diinginkan mampu menyumbangkan rumusan gagasan yang bisa diterapkan dan bermanfaat untuk masyarakat. Melalui proses terjun ke masyarakat pula, diinginkan strategi internalisasi gerakan revolusi mental melewati jalur edukasi tinggi bisa terwujud.

Selengkapnya: bahasainggris.co.id/