Potret Indonesia Masa Kini dalam Kurator Seni

Potret Indonesia Masa Kini dalam Kurator Seni

Menyampaikan aspirasi dan kritik pada segala hal perihal bersama Negara tercinta Indonesia ini, tidak hanya terbatas melalui aksi turun jalan maupun melalui tulisan. Memvisualisasikan ide, gagasan, maupun semua keresahan tentang Indonesia dalam bentuk gambar menjadi jalan baru penyampai kritik konstruk efektif. Memvisualisasikan inspirasi dalam gambar membutuhkan kelugasan dalam berpikir, kreatif dan imaginatif, serta kudu kelihaian dalam penyelarasan gambar dan teks.

Potret Indonesia Masa Kini dalam Kurator Seni

Berkaitan bersama hal tersebut, Wahyu Aditya, dkk. Melalui Buku Komik Corat-Coret:Made In Indonesia, menyatukan segala inspirasi ke Indonesiaannya melalui gambar. Hasil kreator para Gembolers, nama khas pertisipan Kementrian Desain Republik Indonesia (belum/tidak sah) memberi penyadaran tentang realitas Indonesia masakini. Buku ini memvisualisasikan inspirasi ke Indonesiaanya dalam lima tema umum; 100% Indonesia, Tanah Air Saat Ini, I Love Indonesia, Indonesia (belum) Merdeka, Save Indonesia, Save Earth, dan Semangat Persatuan.

Pada tema 100% Indonesia, para kreator menyinggung hal lazim yang menjadi ciri khas negeri ini. Seperti pada komik Bayi ala Indonesia (hal 2) yang memvisualisasikan tentang tradisi jawa, “turun tanah”. Dalam tradisi ini anak dapat diberikan pilahan barang-barang yang akrab dalam kehidupan, seperti cermin, sisir, mainan, dan lain sebagainya. barang yang diambil alih punyai makna dan makna tersendiri dimana membuktikan minat, bakat anak tersebut kelak. Namun menariknya, pada komik ini memvisualisasikan anak mengambil remote control televisi, sesudah itu menyaksikan sinetron.

Sebuah auto kritik menggelitik tentang kegemaran masyarakat Indonesia menyaksikan sinetron pada hampir tiap tiap waktu. Realitas ini menjadi justifikasi acara televisi di Indonesia yang tetap didominasi oleh tontonan hiburan semata, acara mendidik tetap terlalu minim dan kalah pamor bersama acara hiburan dan sinetron. Hal serupa termasuk divisualisasikan pada komik “X = Y” (hal 10) yang medeskripsikan sepasang siswa yang ngobrol tentang sinetron dalam kelas ditengah pelajaran yang tengah berlangsung, hal ini termasuk efek berasal dari acara televisi yang hanya didominasi oleh acara sinetron.

Pada tema Tanah Air Saat ini, para komikus banyak menyinggung kebiasaan para pemuda era kini baik berasal dari tipe hidup maupun pola pikir. Seperti komik Anak Gaul Socmed (hal 47) dimana memvisualisasikan anak muda yang hanya sibuk mendokumentasikan tiap tiap aktivitasnya lalu mengunggah di fasilitas sosial, ini terlalu jauh berasal dari kesibukan produktif pengembangan pribadi. Hal lain, termasuk diekspresikan pada komik Anti-Sosial, (hal 52) yang memvisualisasikan para pemuda yang hanya aktif di fasilitas sosial, mereka hanya terlihat sibuk Update standing tentang kesosialan, tapi tidak berkecimpung langsung pada sosial kemasyarakatan. Apabila di biarkan, hal ini dapat menciptakan generasi yang egois, dan apatis pada lingkungan.

Sedangkan pada tema I love Indonesia para komikus mengeksplor kekayaan Indonesia, mulai berasal dari wisata, kuliner sampai transportasi. Seperti komik Cinta Indonesia (hal 69) memvisualisasikan perilaku anak muda yang enggan melestarikan kekayaan budaya batik bersama tidak mengenakan pakaian batik pada tiap tiap aktivitas, hanya mampu protes disaat kebudayaan ini diklaim oleh negera lain, sebuah pembelajaran kongkrit dan aplikatif.

Komik lain tentang keelokan Indonesia adalah 24 Alasan Harus ke Jogja (hal 98) yang memvisualisasikan banyak ragam eksotisme destinasi di Jogja yang membuat para pengunjung dapat ketagihan untuk berkunjung. Selain itu, komik Bali, Pulau Nan Indah di Indonesia…(hal 78) termasuk memvisualisasikan kekayaan destinasi di Bali, mulai berasal dari keindahan alam sampai tempat perbelanjaan kreatif yang siap memanjakan pengunjung.

Pada tema Indonesia (belum)Merdeka (hal 107) menyinggung perihal kegemaran masyarakat bahasa dan budaya asing dimana tidak diimbangi bersama pelestarian budaya lokal. Selain itu, tetap maraknya perilaku koruptif yang mendarah daging. Seperti komik Suap dan Sogokan (hal 116) yang memvisualisasikan perilaku koruptif para pejabat yang suka memeras rakyat kecil bersama dialog kucing bersama ikan.

Sedangkan pada tema Seve Indonesia, Save Earth (hal 135), para komikis mengajak pembaca untuk sama-sama melastarikan lingkungan dan binatang asli Indonesia, tidak hanya itu, para komikus termasuk memvisualisasikan akibat berasal dari ulah manusia terkecuali tidak memelihara alam, seperti banjir, longsor, dan lain sebagainya. Pada tema Semangat Persatuan (hal 161) komikus menyiratkan pesan tentang stimulan persatuan bersama mengesampingkan perbedaan dan keperluan pribadi, Indonesia sebagai bangsa yang multikultural kudu menghormati tinggi toleransi.

Buku hasil para kreator seni menggambar ini hadir sebagai diktum baru peran komik sebagai fasilitas aspirasi dan kreasi yang aktif produktif, karya ini menegasikan komik hanya sebagai hiburan, tapi termasuk menjadi bagian berasal dari fragmen kehidupan sosial-politik masyarakat Indonesia.